Dialog Imajiner Wildan dan Iyai Mirza Tentang Dunia Peternakan

Ilustrasi AI Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Onetime.id, Bandar Lampung – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memilih kalimat tak biasa ketika membuka pelantikan Pengurus Wilayah Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Lampung periode 2026–2031 pada Sabtu, (9/5/2026).

Ia tidak memulai dengan angka produksi, apalagi statistik konsumsi daging. Ia justru kembali ke kisah purba Habil dan Qabil.

Dalam tradisi Islam, kisah dua anak Nabi Adam itu bukan sekadar cerita moral, melainkan fondasi etika pengorbanan.

Habil mempersembahkan yang terbaik hewan ternak pilihan dan diterima.

Qabil sebaliknya memberi yang terburuk, lalu ditolak. Dari sana, kecemburuan tumbuh, berujung pada tragedi pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Pesan yang diangkat Mirza terasa sederhana, tapi justru relevan kualitas niat dan kualitas hasil tak bisa dipisahkan.

Dalam konteks hari ini, terutama menjelang Idul Adha, pesan itu seperti teguran halus bagi praktik peternakan yang kerap terjebak pada logika kuantitas semata.

Setiap tahun, permintaan hewan kurban melonjak tajam domba, kambing, sapi, hingga kerbau menjadi komoditas musiman yang nilainya bisa berlipat.

Namun di balik lonjakan itu, pertanyaan mendasar sering terabaikan: apakah hewan yang dipersembahkan benar-benar yang terbaik?

Di titik inilah peran sarjana peternakan menjadi krusial. Mereka bukan hanya produsen, tetapi juga penjaga standar baik dari sisi kesehatan hewan, kelayakan, hingga etika pemeliharaan.

Mirza seolah mengingatkan bahwa kompetensi teknis tanpa kesadaran moral berisiko melahirkan “Qabil-Qabil” baru dalam praktik peternakan modern.

Lebih jauh, isu ini juga bersentuhan dengan kemandirian pangan daerah.

Lampung, dengan potensi agraris dan peternakan yang besar, seharusnya tidak hanya menjadi pasar musiman, tetapi juga produsen utama hewan kurban berkualitas.

Hilirisasi peternakan yang belakangan kerap digaungkan tak cukup dimaknai sebagai penguatan industri, tetapi juga peningkatan nilai, termasuk nilai etik.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas pangan dan kehalalan, standar hewan kurban tak lagi bisa ditawar.

Hewan harus sehat, cukup umur, tidak cacat, dan dipelihara dengan baik. Ini bukan sekadar syarat fikih, tetapi juga refleksi dari kesungguhan berkurban itu sendiri.

Kisah Habil dan Qabil, dengan demikian, menemukan relevansinya di era modern.

Ia bukan hanya cerita masa lalu, tetapi cermin bagi praktik hari ini. Bahwa dalam setiap transaksi, produksi, dan distribusi hewan ternak, selalu ada dimensi moral yang menyertainya.

Dan mungkin, di situlah inti pesan yang ingin ditegaskan Mirza beternak bukan hanya soal menghasilkan, tetapi juga soal mempersembahkan yang terbaik.

Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan jumlahnya, melainkan kualitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *