Menyeruput Petuah di Meja Kopi Senior

Bersama senior Fahuri Ali KM dan Yuda Pranata saat berbincang dikediamannya disuguhi kopi dan ditemani burung perkutut kesayangannya.

Onetime.id, Bandar Lampung – Seharian langkah saya tak benar-benar berhenti. Pagi merajut silaturahmi, siang menagih fakta demi profesi, sore menjadi junior yang sigap menerima perintah.

Di antara derap itu, saya belajar satu hal yang tak tertulis di buku pedoman jurnalistik mana pun hidup adalah sekolah panjang, dan senior adalah salah satu gurunya.

Di kampus dulu, kami sering berkelakar setengah serius bahwa “senior di atas senior tidak pernah salah.” Kalimat itu bukan mantra feodal, melainkan penanda hormat pada pengalaman.

Tanpa arahan, ingatan, dan teguran mereka, barangkali saya tak akan berdiri di titik ini sebagai wartawan yang masih belajar mengeja realitas.

Fakultas Pertanian Universitas Lampung, almamater yang kami cintai, menanamkan kultur dialog.

Senior bukan sekadar tingkat di atas, melainkan ruang diskusi, tempat bertukar pikiran, mengolah kata menjadi fakta.

Mereka menegur jika kami keliru, mengingatkan ketika kami alpa, dan mengarahkan saat kami goyah. Namun satu yang pasti, senior bukan Tuhan.

Senior adalah orang tua kedua di kampus, di luar kampus, hingga hari ini. Tradisi menegur ketika berjumpa, baik di lorong kelas maupun di simpang jalan kehidupan, adalah warisan kecil yang menjaga kami tetap waras.

Aktivisme sehari-hari pun tak pernah lepas dari orbit senior, baik di dunia kampus maupun di gelanggang jurnalistik.

Malam itu, saya bertamu kepada seorang senior yang namanya akrab di telinga para wartawan Fahuri Wherlian Ali KM, pendiri Warta Coffee. Rumahnya sederhana, tapi gagasannya melanglang buana.

Ia meracik kopi seperti menyusun argumentasi tenang, presisi, dan penuh rasa.

Di tangannya, kopi Lampung tak sekadar minuman, melainkan identitas. Ia tahu selera milenial dan Gen Z, tapi tak tercerabut dari akar.

Lidah pelanggan dibuat ketagihan, bukan hanya oleh pahit-manis racikan, melainkan oleh suasana kekeluargaan yang ia bangun.

Kafenya menjadi titik temu lintas angkatan, lintas profesi sebuah ruang publik kecil yang hangat.

Dari ide kreatifnya pula, Jumat Berkah digulirkan. Usai salat Jumat, ratusan hingga ribuan porsi makanan dibagikan.

Sederhana, ala kadarnya, tapi cukup membuat para pengemudi ojek online dan warga sekitar tersenyum kenyang.

Di tengah riuh program nasional Makan Bergizi Gratis, gerakan kecil itu sudah lebih dulu menyala sunyi, tapi konsisten.

Di meja kopi panjang itu, perbincangan mengalir dari soal kecemasan wartawan menghadapi kecerdasan artifisial, ketatnya persaingan media daring dan cetak, hingga dominasi influencer di jagat maya. Kami tak menolak zaman, tapi juga tak ingin ditelan zaman.

Suasana malam dibalut lima falsafah hidup masyarakat Lampung: pi’il senggiri, sakai sembayan, nemui nyimah, nengah nyappur, dan bejuluk beadek.

Harga diri, gotong royong, keramahan, kemampuan berbaur, serta martabat dalam gelar semuanya seperti hadir, tak sekadar menjadi slogan budaya.

Kopi tandas. Burung perkutut kesayangannya bersuara lirih di halaman. Alam dan manusia bersekutu dalam kesederhanaan. Malam Jumat yang kerap disebut keramat itu menjelma ruang tafakur.

Perdebatan tentang hablumminallah dan hablumminannas mengemuka tentang menjaga relasi dengan Tuhan dan sesama manusia di antara cangkir-cangkir kosong.

Dari sana saya menyimpulkan, senior yang baik bukanlah mereka yang menuntut loyalitas, melainkan yang berani menegur saat kita salah dan mengarahkan pada jalan yang diridai Allah SWT.

Senior bukan lawan. Senior bukan Tuhan. Tapi senior juga tak selayaknya dilawan dengan kesombongan.

Terima kasih, Senior. Atas petuah, pengalaman, dan teladan yang kau bagi tanpa pamrih. Semoga setiap kebaikan menjadi amal yang terus mengalir.

Tabik pun, tabik tabik ngalimpuro.

Wallahu a’lam bish-shawab

Salam Hormat Wildan Hanafi, jurnalis junior.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *